Ekonomi

Cara Melaporkan Rekening Penipuan Secara Online ke OJK

Cara Melaporkan Rekening Penipuan Secara Online ke OJK

Jika uang sudah terlanjur ditransfer ke rekening penipu, jangan menunggu terlalu lama untuk bertindak. Cara melaporkan rekening penipuan secara online ke OJK sekarang dapat dilakukan melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), yaitu pusat penanganan penipuan transaksi keuangan yang dikoordinasikan OJK untuk mempercepat respons lembaga keuangan terhadap laporan korban.

Laporan sebaiknya dibuat sesegera mungkin karena tujuan utamanya adalah membuka jalur penanganan finansial, termasuk upaya penundaan transaksi dan penelusuran aliran dana. Namun, laporan IASC tidak berarti uang pasti kembali dan tidak menggantikan laporan polisi.

Apa yang Harus Dilakukan Setelah Menjadi Korban Penipuan Rekening?

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menghentikan komunikasi atau transaksi lanjutan dengan pelaku. Jangan mengirim uang tambahan meskipun pelaku mengaku membutuhkan biaya administrasi, pajak, biaya pencairan, atau uang jaminan untuk mengembalikan dana.

Setelah itu, segera amankan seluruh bukti yang masih tersedia. Jangan menghapus percakapan WhatsApp, pesan di media sosial, email, bukti transfer, nomor rekening, nomor telepon, tautan situs, maupun iklan yang digunakan pelaku.

Hubungi bank atau penyedia layanan pembayaran

Jika transaksi baru saja terjadi, hubungi bank atau penyedia jasa pembayaran yang Anda gunakan untuk mengirim uang. Jelaskan bahwa transaksi tersebut berkaitan dengan dugaan penipuan dan tanyakan prosedur pengaduan transaksi.

Tujuannya bukan sekadar mendapatkan informasi, tetapi memastikan transaksi tercatat sebagai pengaduan dan mendapatkan arahan dari penyedia layanan terkait.

Segera buat laporan IASC

Setelah bukti diamankan, buat laporan melalui portal resmi Indonesia Anti-Scam Centre (IASC). OJK menyebut korban penipuan transaksi keuangan perlu segera melapor melalui IASC untuk mendukung upaya pemblokiran rekening pelaku secara cepat.

Kecepatan menjadi faktor penting karena dana hasil penipuan dapat dipindahkan ke rekening lain. IASC sendiri menjelaskan bahwa sistemnya digunakan untuk menghubungkan laporan korban dengan lembaga keuangan terkait sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Jangan percaya pihak yang menawarkan jasa pengembalian dana

Waspadai orang yang menghubungi Anda setelah kejadian dan mengaku sebagai petugas OJK, IASC, bank, atau aparat. Mereka bisa saja meminta biaya tertentu dengan alasan membantu membuka blokir atau mengembalikan uang.

OJK secara khusus mengingatkan masyarakat mengenai situs dan pihak yang mengatasnamakan IASC. Pelaporan resmi hanya dilakukan melalui situs IASC yang ditetapkan OJK.

Data dan Bukti yang Perlu Disiapkan Sebelum Membuat Laporan

Persiapan bukti akan membuat proses pengisian laporan lebih mudah. IASC meminta data pelapor, informasi terlapor, detail transaksi, kronologi, serta bukti pendukung untuk proses penanganan.

Sebelum membuka formulir, sebaiknya buat satu folder khusus di HP atau komputer agar semua file mudah ditemukan.

Data atau bukti Contoh yang disiapkan
Identitas pelapor KTP/KITAS/Paspor sesuai kebutuhan formulir
Kontak Nomor HP dan email aktif
Data rekening korban Bank/PJP, nomor rekening, nama pemilik
Data rekening pelaku Bank/PJP, nomor rekening, nama pemilik jika tersedia
Bukti transaksi Struk transfer atau screenshot mobile banking
Percakapan Screenshot WhatsApp, Telegram, SMS, atau media sosial
Sumber penipuan Iklan, profil akun, situs, atau tautan yang digunakan
Kronologi Urutan kejadian, tanggal, waktu, dan nominal transaksi

Jangan mengedit bukti transaksi

Simpan bukti dalam bentuk aslinya apabila memungkinkan. Screenshot boleh digunakan untuk menunjukkan informasi transaksi, tetapi jangan menambahkan tulisan atau mengubah bagian penting yang dapat membuat informasi menjadi tidak jelas.

Jika memiliki beberapa bukti, simpan semuanya. Bukti yang terlihat tidak penting sekalipun dapat membantu menjelaskan hubungan antara pelaku, rekening tujuan, dan kejadian.

Perhatikan jumlah rekening tujuan

IASC menjelaskan bahwa satu formulir laporan difokuskan pada transaksi dari satu rekening korban ke rekening terlapor. Jika korban melakukan transfer ke beberapa rekening penipu yang berbeda, laporan dapat memerlukan pelaporan terpisah sesuai mekanisme yang berlaku, karena itu, catat setiap transaksi secara terpisah agar nomor rekening, nominal, dan waktu transfer tidak tertukar.

Cara Melaporkan Rekening Penipuan Secara Online melalui IASC OJK

Pelaporan dilakukan melalui portal resmi IASC OJK. Pastikan alamat situs yang digunakan adalah iasc.ojk.go.id, karena OJK telah mengingatkan adanya modus situs palsu yang mengatasnamakan IASC.

1. Buka portal IASC

Gunakan browser di HP atau komputer, kemudian buka portal resmi IASC. Situs tersebut menyediakan alur pelaporan yang mencakup pemeriksaan kelengkapan, pengiriman laporan, penyimpanan nomor laporan, dan pelacakan status.

Tujuannya: memastikan laporan masuk ke jalur penanganan yang tepat.

2. Siapkan identitas pelapor

Masukkan data diri sesuai dokumen yang diminta. IASC mencantumkan data seperti nama lengkap, nomor identitas, domisili, alamat, nomor telepon, dan email sebagai bagian dari informasi pelapor, pastikan nomor HP dan email masih aktif karena dapat digunakan untuk keperluan konfirmasi atau perbaikan laporan.

3. Unggah dokumen pendukung

Siapkan file identitas dan bukti transaksi sesuai format yang diterima sistem. Bukti transfer, percakapan dengan pelaku, serta sumber penipuan menjadi bagian penting dalam laporan.

Jika ukuran file terlalu besar, periksa ketentuan yang muncul pada formulir. Jangan menghapus bagian penting dari bukti hanya agar ukuran file menjadi lebih kecil.

4. Periksa kembali sebelum dikirim

Pastikan nomor rekening, nama bank, nominal, tanggal, dan waktu transaksi sudah benar. Kesalahan satu digit pada nomor rekening dapat menyulitkan proses identifikasi rekening tujuan, setelah semua data sesuai, kirim laporan dan simpan nomor laporan yang diberikan sistem.

Cara Mengisi Data Rekening Pelaku dan Kronologi Penipuan

Bagian rekening pelaku harus diisi berdasarkan informasi yang benar-benar Anda miliki. Jangan menebak nama pemilik rekening atau menambahkan identitas pelaku yang tidak memiliki bukti.

Untuk rekening tujuan, periksa kembali nama bank atau penyedia jasa pembayaran, nomor rekening atau akun, serta nama pemilik yang muncul ketika transaksi dilakukan. Jika informasi tertentu tidak diketahui, ikuti pilihan atau petunjuk yang tersedia dalam formulir.

Cara membuat kronologi yang mudah dipahami

Kronologi tidak perlu dibuat seperti cerita panjang. Susun berdasarkan waktu sehingga petugas dapat memahami bagaimana komunikasi terjadi, bagaimana pelaku meyakinkan korban, dan kapan transaksi dilakukan.

Contoh pola yang dapat digunakan:

  • Pertama, jelaskan kapan Anda menemukan penawaran atau berkomunikasi dengan pihak yang diduga sebagai pelaku.
  • Kedua, jelaskan apa yang dijanjikan atau alasan Anda diminta melakukan pembayaran.
  • Ketiga, tuliskan kapan transfer dilakukan, melalui layanan apa, ke rekening mana, dan berapa nominalnya.
  • Keempat, jelaskan kejadian setelah pembayaran, misalnya barang tidak dikirim, akun pelaku tidak dapat dihubungi, atau pelaku meminta pembayaran tambahan.

Gunakan fakta yang dapat dibuktikan melalui screenshot, bukti transaksi, atau data komunikasi. Hindari menambahkan dugaan pribadi yang tidak berkaitan dengan kejadian.

Contoh format kronologi

Misalnya seseorang tertipu saat membeli barang melalui media sosial. Kronologi dapat ditulis secara singkat seperti berikut: Pada 1 September 2026, saya melihat penawaran barang melalui akun media sosial dan kemudian berkomunikasi dengan pihak penjual melalui WhatsApp.

Setelah mendapatkan informasi harga dan metode pembayaran, saya melakukan transfer sebesar Rp1.500.000 ke rekening yang diberikan pelaku pada tanggal dan waktu transaksi tersebut.

Setelah pembayaran, barang tidak dikirim dan pelaku tidak memberikan respons yang jelas. Saya menduga transaksi tersebut merupakan penipuan dan melaporkan rekening tujuan beserta bukti komunikasi serta bukti transfer.

Format seperti ini lebih mudah dipahami karena langsung menunjukkan siapa, kapan, bagaimana, ke rekening mana, dan berapa kerugiannya.

Cara Melacak Status Laporan Rekening Penipuan yang Sudah Dikirim

Setelah laporan berhasil dikirim, jangan sampai nomor laporan hilang. Nomor tersebut diperlukan untuk memeriksa perkembangan penanganan melalui fitur pengecekan laporan di IASC.

Pada halaman tersebut, pelapor diminta memasukkan Nomor Laporan. Sistem kemudian dapat menampilkan informasi seperti tanggal pembaruan status, penyelenggara sumber dan tujuan, rekening atau akun terkait, status laporan, serta alasan apabila tersedia.

Jika status laporan belum berubah

Tidak perlu langsung menganggap laporan gagal. Penanganan dapat melibatkan lebih dari satu lembaga karena dana hasil penipuan bisa saja sudah berpindah dari rekening awal ke rekening lainnya.

IASC menjelaskan bahwa lembaga keuangan dapat melakukan penelusuran aliran dana dan meneruskan penanganan apabila dana terindikasi berpindah ke lembaga lain.

Hal terpenting adalah tetap menyimpan nomor laporan dan bukti pengaduan. Jika ada permintaan perbaikan data, berikan informasi sesuai bukti yang tersedia.

Apakah uang pasti kembali?

Tidak. IASC secara tegas menyatakan bahwa pelaporan tidak menjamin dana korban akan kembali, tujuan utamanya adalah mempercepat upaya penundaan transaksi atau pemblokiran rekening untuk mengamankan dana yang mungkin masih tersisa serta membantu penelusuran aliran dana.

Semakin cepat laporan dibuat, semakin cepat pula lembaga terkait dapat menerima informasi mengenai dugaan transaksi penipuan. Namun, hasil akhirnya tetap bergantung pada kondisi dana dan proses penelusuran lembaga keuangan.

Cara Melaporkan Penipuan ke Kepolisian Setelah Membuat Laporan IASC

Laporan IASC dan laporan polisi memiliki fungsi yang berbeda. IASC digunakan untuk jalur penanganan finansial, sedangkan laporan polisi menjadi jalur proses hukum terhadap dugaan tindak pidana.

Karena itu, setelah mengirim laporan IASC, korban tetap perlu membuat laporan kepada penegak hukum. IASC sendiri menyebut korban perlu melakukan kedua jalur tersebut.

Siapkan bukti yang sama

Bawa atau siapkan bukti yang berkaitan dengan kejadian, seperti:

  • Identitas diri.
  • Bukti transfer.
  • Rekening tujuan.
  • Screenshot percakapan.
  • Nomor telepon atau akun pelaku.
  • Tautan atau profil yang digunakan.
  • Bukti penawaran atau iklan.
  • Kronologi kejadian.
  • Nomor laporan IASC.

Jelaskan kejadian secara kronologis dan apa kerugian yang dialami. Jangan menghapus bukti digital setelah laporan dibuat karena informasi tersebut masih dapat dibutuhkan dalam proses berikutnya.

Mengapa laporan polisi tetap diperlukan?

Laporan IASC tidak dirancang untuk menggantikan proses hukum. Sistem IASC berfokus pada koordinasi penanganan transaksi keuangan, sedangkan proses hukum membutuhkan laporan kepada aparat penegak hukum.

Dengan membuat keduanya, korban tidak hanya menempuh jalur pengamanan dana, tetapi juga membuka jalur untuk penanganan dugaan tindak pidana.

Catatan penting: jangan membayar pihak yang menjanjikan dapat memastikan pelaku tertangkap atau uang pasti kembali. Tidak ada jaminan seperti itu hanya karena seseorang mengaku sebagai perantara atau petugas.

FAQ Seputar Cara Melaporkan Rekening Penipuan Secara Online ke OJK

Apakah rekening penipu bisa dilaporkan secara online ke OJK?

Bisa. Untuk penipuan transaksi keuangan, OJK menyediakan Indonesia Anti-Scam Centre atau IASC sebagai kanal pelaporan terpusat. Laporan dapat diteruskan kepada lembaga keuangan terkait untuk mendukung upaya penanganan dan pemblokiran dana.

Apakah laporan IASC sama dengan laporan polisi?

Tidak. IASC digunakan untuk jalur penanganan finansial, sedangkan laporan polisi digunakan untuk proses hukum. OJK/IASC menyatakan korban perlu melakukan kedua pelaporan tersebut.

Apakah melapor ke IASC menjamin uang kembali?

Tidak. IASC tidak menjamin dana korban akan kembali. Tujuan pelaporan adalah mempercepat upaya mengamankan sisa dana dan menelusuri aliran transaksi yang berkaitan dengan penipuan.

Bukti apa yang paling penting untuk laporan rekening penipuan?

Bukti transfer merupakan salah satu bukti utama, tetapi sebaiknya disertai percakapan dengan pelaku, informasi rekening tujuan, sumber penipuan, dan kronologi lengkap. IASC memang meminta bukti transaksi dan bukti pendukung lainnya dalam proses pelaporan.

Bagaimana jika saya tidak mengetahui nama asli penipu?

Tetap laporkan informasi yang Anda miliki. Nomor rekening, nomor telepon, nama akun, tautan, bukti komunikasi, dan data transaksi dapat membantu menjelaskan kejadian meskipun identitas asli pelaku tidak diketahui.

Apakah rekening penipu bisa dilaporkan jika uang sudah dipindahkan?

Tetap laporkan. IASC menjelaskan bahwa proses penanganan dapat mencakup penelusuran aliran dana apabila dana berpindah ke lembaga atau rekening lain.

Bagaimana cara mengetahui perkembangan laporan IASC?

Gunakan fitur pengecekan laporan pada portal IASC dan masukkan nomor laporan yang diperoleh setelah pengajuan. Sistem menyediakan informasi perkembangan sesuai data yang tersedia pada laporan tersebut.

Bagaimana jika ada pihak yang mengaku petugas IASC dan meminta uang?

Berhati-hatilah. OJK telah memperingatkan adanya modus penipuan yang mengatasnamakan IASC. Pastikan informasi hanya berasal dari kanal resmi dan jangan memberikan data sensitif atau melakukan pembayaran berdasarkan pesan mencurigakan.

Kesimpulan

Korban penipuan rekening sebaiknya tidak menunda laporan karena dana dapat berpindah dengan cepat. Jalur yang perlu ditempuh adalah melaporkan transaksi melalui IASC untuk penanganan finansial sekaligus membuat laporan kepada penegak hukum untuk proses hukum.

Sebelum mengisi formulir, siapkan identitas, bukti transfer, data rekening tujuan, percakapan, sumber penipuan, dan kronologi. Gunakan hanya portal resmi IASC, simpan nomor laporan setelah pengajuan, lalu gunakan nomor tersebut untuk memantau perkembangannya.

Yang tidak kalah penting, jangan menganggap laporan otomatis membuat uang kembali. IASC berfungsi mempercepat koordinasi penanganan dan upaya pengamanan dana, sedangkan keberhasilan penyelamatan dana tetap bergantung pada kondisi transaksi dan hasil penelusuran lembaga terkait.