Ekonomi

Cara Menghitung Keuntungan Deposito BCA Berdasarkan Nominal dan Tenor

Cara Menghitung Keuntungan Deposito BCA Berdasarkan Nominal dan Tenor

Deposito sering dipilih ketika seseorang ingin menyimpan dana untuk jangka waktu tertentu sekaligus memperoleh bunga. Namun, keuntungan yang terlihat pada suku bunga belum tentu sama dengan uang yang benar-benar diterima karena bunga deposito dikenakan pajak sesuai ketentuan.

Karena itu, Cara Menghitung Keuntungan Deposito BCA Berdasarkan Nominal dan Tenor perlu dilakukan dengan memperhitungkan tiga komponen utama, yaitu dana awal, suku bunga, dan jangka waktu penempatan. Setelah bunga kotor ditemukan, hasilnya perlu dikurangi pajak agar diketahui keuntungan bersih yang masuk ke perhitungan akhir.

Apa Itu Keuntungan Deposito BCA dan Bagaimana Cara Menghitungnya?

Keuntungan deposito BCA pada dasarnya berasal dari bunga yang diberikan bank atas dana yang ditempatkan selama tenor tertentu. Berbeda dengan tabungan biasa, deposito memiliki jangka waktu sehingga dana ditempatkan sesuai pilihan tenor yang tersedia.

Untuk deposito rupiah BCA, pilihan tenor yang tercantum adalah 1, 3, 6, dan 12 bulan. Suku bunga yang berlaku dapat berubah sesuai kondisi pasar dan ketentuan BCA, sehingga angka yang digunakan ketika membuat simulasi harus disesuaikan dengan tingkat bunga terbaru.

Secara sederhana, perhitungan bunga deposito dapat menggunakan rumus: Bunga kotor = Nominal deposito × suku bunga tahunan × jumlah hari / 365 setelah mendapatkan bunga kotor, langkah berikutnya adalah menghitung pajak: Pajak = Bunga kotor × 20%

Kemudian keuntungan bersih diperoleh dengan rumus: Bunga bersih = Bunga kotor − pajak sebagai contoh sederhana, apabila Rp10 juta ditempatkan selama 1 bulan dengan bunga 2,75% per tahun, bunga kotor sekitar Rp22.603. Setelah dikurangi pajak 20%, keuntungan bersihnya sekitar Rp18.082.

BCA sendiri menggunakan asumsi 1 bulan = 30 hari dan 1 tahun = 365 hari dalam contoh simulasinya. Karena itu, hasil perhitungan manual sebaiknya mengikuti metode tersebut agar hasilnya mendekati simulasi bank.

Cara Menentukan Bunga Deposito BCA Berdasarkan Nominal dan Tenor

Menentukan bunga deposito BCA tidak cukup hanya melihat jumlah uang yang ingin disimpan. Nasabah juga perlu melihat tenor yang dipilih karena suku bunga tahunan dapat berbeda antara tenor 1, 3, 6, dan 12 bulan.

Berdasarkan informasi BCA yang berlaku efektif 1 April 2026, struktur bunga deposito rupiah reguler untuk nominal di bawah Rp2 miliar adalah sebagai berikut.

Tenor Suku bunga per tahun
1 bulan 2,75%
3 bulan 2,75%
6 bulan 3,00%
12 bulan 3,00%

Menariknya, nominal Rp10 juta, Rp50 juta, dan Rp100 juta masih berada dalam kelompok yang mendapatkan tingkat bunga reguler yang sama. Jadi, kenaikan nominal dari Rp10 juta menjadi Rp100 juta tidak otomatis membuat persentase bunganya lebih tinggi.

Perbedaan keuntungan terutama muncul karena jumlah pokok yang lebih besar menghasilkan nominal bunga yang lebih besar. Tenor juga berpengaruh karena dana berada di deposito lebih lama.

Untuk penempatan dengan nominal minimal Rp2 miliar, BCA juga mencantumkan skema Deposito Rupiah Suku Bunga Khusus dengan tenor 6 dan 12 bulan. Tingkat yang tercantum adalah 3,25% untuk 6 bulan dan 3,50% untuk 12 bulan, dengan ketentuan tertentu termasuk jenis perpanjangan ARO+.

Jadi, jika dana yang akan ditempatkan cukup besar, jangan langsung menggunakan tabel bunga reguler. Periksa kategori nominal dan ketentuan produk yang berlaku saat melakukan penempatan.

Catatan: Suku bunga deposito dapat berubah. Angka di atas merupakan acuan berdasarkan informasi resmi BCA yang berlaku pada April 2026, bukan jaminan bahwa tingkat bunga tersebut akan selalu sama ketika deposito dibuka.

Cara Menghitung Keuntungan Deposito BCA Berdasarkan Nominal dan Tenor

Setelah mengetahui suku bunganya, perhitungannya sebenarnya cukup sederhana. Hal terpenting adalah tidak langsung menganggap persentase bunga sebagai keuntungan bersih karena bunga tersebut masih merupakan bunga kotor.

Rumus bunga deposito BCA

Gunakan rumus berikut:

Bunga kotor = Pokok deposito × bunga tahunan × jumlah hari / 365

Misalnya:

  • Pokok: Rp50.000.000
  • Bunga: 3% per tahun
  • Tenor: 6 bulan
  • Asumsi: 180 hari

Maka:

Rp50.000.000 × 3% × 180 / 365 = sekitar Rp739.726

Angka tersebut merupakan bunga kotor sebelum pajak.

Jika pajak 20% diterapkan, pajaknya:

Rp739.726 × 20% = sekitar Rp147.945

Dengan demikian, bunga bersih:

Rp739.726 − Rp147.945 = sekitar Rp591.781

Artinya, keuntungan bersih dari deposito Rp50 juta selama 6 bulan dengan bunga 3% sekitar Rp591.781, dengan asumsi tidak ada perubahan bunga dan menggunakan metode perhitungan hari tersebut.

Kenapa hasilnya tidak cukup dihitung dengan bunga × tenor?

Kesalahan yang cukup umum adalah menghitung 3% × 6/12 lalu menganggap hasilnya sebagai keuntungan akhir. Perhitungan tersebut bisa digunakan sebagai pendekatan sederhana, tetapi simulasi bank dapat menggunakan jumlah hari aktual atau asumsi hari tertentu.

BCA pada simulasi produknya menjelaskan bahwa bunga dihitung sebagai bunga gross dan menggunakan asumsi 1 bulan 30 hari serta 1 tahun 365 hari, karena itu, untuk mendapatkan hasil yang lebih mendekati simulasi BCA, gunakan jumlah hari tenor yang sesuai.

Ringkasan perhitungan berdasarkan tenor

Tenor Suku bunga Asumsi hari
1 bulan 2,75% 30 hari
3 bulan 2,75% 90 hari
6 bulan 3,00% 180 hari
12 bulan 3,00% 365 hari

Perlu diperhatikan bahwa tabel tersebut merupakan simulasi berdasarkan tingkat bunga BCA yang tersedia saat konten ini diperbarui. BCA menyatakan suku bunga dapat berubah sewaktu-waktu.

Cara Menghitung Pajak 20% atas Bunga Deposito BCA

Pajak menjadi bagian penting dalam menghitung keuntungan deposito karena bunga yang diterima nasabah bukan selalu sebesar bunga kotor.

Direktorat Jenderal Pajak menjelaskan bahwa bunga deposito pada umumnya dikenai PPh final sebesar 20% dari jumlah bruto untuk wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap. Terdapat pengecualian untuk jumlah deposito dan tabungan yang tidak melebihi Rp7,5 juta serta bukan merupakan jumlah yang dipecah-pecah.

Untuk simulasi deposito Rp10 juta, pajak 20% dapat langsung digunakan karena nominal tersebut berada di atas batas Rp7,5 juta, contohnya bunga kotor Rp100.000: Pajak = Rp100.000 × 20% = Rp20.000

Sehingga: Bunga bersih = Rp100.000 − Rp20.000 = Rp80.000 dengan kata lain, untuk kondisi yang dikenai PPh final 20%, nasabah secara sederhana menerima sekitar 80% dari bunga kotor.

Jangan menghitung pajak dari pokok deposito

Pajak tersebut bukan berarti 20% dari uang yang disimpan. Pajak dihitung dari bunga bruto, bukan dari seluruh pokok deposito, misalnya deposito Rp100 juta menghasilkan bunga kotor Rp3 juta dalam satu tahun. Pajaknya bukan Rp20 juta, melainkan: Rp3.000.000 × 20% = Rp600.000 Jadi keuntungan setelah pajak adalah Rp2,4 juta.

Ketentuan perpajakan dapat memiliki pengecualian dan kondisi khusus tertentu. Untuk kebutuhan pelaporan pajak pribadi atau kondisi yang tidak umum, sebaiknya mengacu pada ketentuan perpajakan terbaru atau berkonsultasi dengan pihak yang kompeten.

Contoh Perhitungan Keuntungan Deposito BCA Rp10 Juta, Rp50 Juta, hingga Rp100 Juta

Agar lebih mudah dipahami, berikut simulasi menggunakan bunga deposito rupiah BCA 2,75% untuk tenor 1 dan 3 bulan serta 3% untuk tenor 6 dan 12 bulan. Simulasi ini menggunakan asumsi 30, 90, 180, dan 365 hari serta pajak 20% atas bunga.

Deposito Rp10 juta

Tenor Bunga Kotor Pajak 20% Bunga Bersih Total Setelah Jatuh Tempo
1 bulan Rp22.603 Rp4.521 Rp18.082 Rp10.018.082
3 bulan Rp67.808 Rp13.562 Rp54.247 Rp10.054.247
6 bulan Rp147.945 Rp29.589 Rp118.356 Rp10.118.356
12 bulan Rp300.000 Rp60.000 Rp240.000 Rp10.240.000

Dari simulasi tersebut terlihat bahwa deposito Rp10 juta selama 12 bulan menghasilkan bunga bersih sekitar Rp240 ribu. Angka ini merupakan simulasi matematis, bukan janji hasil investasi.

Deposito Rp50 juta

Tenor Bunga Kotor Pajak 20% Bunga Bersih Total Setelah Jatuh Tempo
1 bulan Rp113.014 Rp22.603 Rp90.411 Rp50.090.411
3 bulan Rp339.041 Rp67.808 Rp271.233 Rp50.271.233
6 bulan Rp739.726 Rp147.945 Rp591.781 Rp50.591.781
12 bulan Rp1.500.000 Rp300.000 Rp1.200.000 Rp51.200.000

Pada nominal Rp50 juta, tenor 12 bulan menghasilkan bunga bersih sekitar Rp1,2 juta berdasarkan asumsi tersebut.

Deposito Rp100 juta

Tenor Bunga Kotor Pajak 20% Bunga Bersih Total Setelah Jatuh Tempo
1 bulan Rp226.027 Rp45.205 Rp180.822 Rp100.180.822
3 bulan Rp678.082 Rp135.616 Rp542.466 Rp100.542.466
6 bulan Rp1.479.452 Rp295.890 Rp1.183.562 Rp101.183.562
12 bulan Rp3.000.000 Rp600.000 Rp2.400.000 Rp102.400.000

Dari ketiga contoh tersebut, pola perhitungannya tetap sama. Semakin besar pokok deposito, semakin besar nominal bunga yang diperoleh apabila persentase bunga dan tenor yang digunakan sama.

Namun, jangan menyimpulkan bahwa tenor 12 bulan selalu menjadi pilihan terbaik. Dana yang dikunci lebih lama juga berarti fleksibilitas penggunaannya lebih rendah.

Cara Mengetahui Total Dana yang Diterima Saat Deposito BCA Jatuh Tempo

Untuk mengetahui dana yang diterima saat jatuh tempo, cukup tambahkan pokok deposito dengan bunga bersih, rumus sederhananya adalah: Total dana = pokok deposito + bunga kotor − pajak

Contohnya, deposito Rp100 juta selama 12 bulan dengan bunga 3% menghasilkan bunga kotor Rp3 juta, setelah pajak 20% sebesar Rp600 ribu, bunga bersih menjadi Rp2,4 juta. Maka total dana berdasarkan simulasi adalah Rp102,4 juta.

Perhitungan ini berlaku untuk skenario ketika bunga tidak digunakan untuk menambah pokok deposito. Jenis perpanjangan juga perlu diperhatikan karena BCA menyediakan mekanisme berbeda untuk pengkreditan bunga sesuai jenis perpanjangan deposito.

Perhatikan pilihan ARO

ARO atau Automatic Roll Over adalah mekanisme perpanjangan deposito secara otomatis. Dalam kondisi tertentu, dana tidak langsung kembali sebagai uang yang siap digunakan karena deposito dapat diperpanjang sesuai instruksi yang dipilih.

Pada e-Deposito BCA, misalnya, ARO mengkreditkan bunga ke rekening sumber dana setiap bulan, sedangkan ARO Plus membuat bunga menambah nominal pokok untuk penempatan berikutnya.

Karena itu, sebelum jatuh tempo, periksa jenis instruksi perpanjangan yang digunakan. Hal ini penting terutama jika dana tersebut sebenarnya sudah disiapkan untuk kebutuhan tertentu.

Bagaimana jika deposito dicairkan sebelum jatuh tempo?

Pencairan lebih awal dapat memengaruhi keuntungan yang diperoleh. BCA menjelaskan bahwa bunga berjalan tidak dibayarkan apabila nasabah melakukan pencairan sebelum jatuh tempo.

Artinya, jangan memasukkan seluruh dana yang mungkin segera dibutuhkan ke deposito hanya karena ingin mendapatkan bunga. Sisakan dana yang diperlukan untuk kebutuhan jangka pendek di rekening yang lebih fleksibel.

FAQ Seputar Perhitungan Keuntungan Deposito BCA

Berapa bunga deposito BCA Rp10 juta?

Dengan acuan bunga 2,75% untuk tenor 1 bulan, simulasi bunga kotor deposito Rp10 juta sekitar Rp22.603. Setelah pajak 20%, bunga bersihnya sekitar Rp18.082.

Berapa keuntungan deposito BCA Rp50 juta selama 1 tahun?

Dengan bunga 3% per tahun, bunga kotor Rp50 juta selama 12 bulan adalah Rp1,5 juta. Setelah pajak 20% sebesar Rp300 ribu, keuntungan bersihnya sekitar Rp1,2 juta.

Berapa keuntungan deposito BCA Rp100 juta selama 6 bulan?

Dengan bunga 3% dan asumsi 180 hari, bunga kotor sekitar Rp1.479.452. Setelah pajak 20%, keuntungan bersihnya sekitar Rp1.183.562.

Apakah bunga deposito BCA dipotong pajak?

Ya, bunga deposito pada umumnya dikenai PPh final 20% dari bunga bruto untuk wajib pajak dalam negeri, dengan pengecualian tertentu sesuai ketentuan perpajakan.

Apakah pajak 20% dihitung dari uang deposito?

Tidak. Pajak 20% dihitung dari bunga bruto yang diperoleh, bukan dari seluruh pokok deposito.

Apakah suku bunga deposito BCA bisa berubah?

Bisa. BCA menyatakan suku bunga dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar dan akan diinformasikan melalui sarana informasi BCA.

Apakah deposito Rp10 juta, Rp50 juta, dan Rp100 juta mendapatkan bunga berbeda?

Untuk tabel bunga reguler BCA yang berlaku efektif 1 April 2026, nominal tersebut masih berada pada kelompok suku bunga yang sama. Perbedaan keuntungan terutama berasal dari jumlah pokok yang ditempatkan.

Apakah deposito bisa dicairkan sebelum jatuh tempo?

BCA menyediakan mekanisme pencairan, tetapi pencairan sebelum jatuh tempo dapat menyebabkan bunga berjalan tidak dibayarkan. Karena itu, ketentuan pencairan perlu diperiksa sebelum melakukan penempatan.

Kesimpulan

Menghitung keuntungan deposito BCA tidak cukup dengan mengalikan nominal dan persentase bunga. Untuk mengetahui hasil yang lebih realistis, hitung bunga berdasarkan tenor, kurangi PPh final sesuai ketentuan, kemudian tambahkan bunga bersih ke pokok deposito.

Dengan acuan bunga BCA yang berlaku efektif April 2026, deposito rupiah reguler mendapatkan bunga 2,75% untuk tenor 1 dan 3 bulan serta 3% untuk tenor 6 dan 12 bulan pada kelompok nominal hingga di bawah Rp2 miliar.

Hal yang paling penting adalah menggunakan bunga terbaru saat deposito dibuka, karena tingkat bunga dapat berubah. Selain itu, periksa jenis perpanjangan dan ketentuan pencairan agar dana yang ditempatkan tetap sesuai dengan kebutuhan keuangan.